Harapan Setinggi Matahari
Deru suara
kendaraan membuatku terbangun dari tidurku,jam baru menunjukan pukul 05.00
pagi,tapi bisa dibayangkan bagaimana bisingnya tinggal di kota metropolitan
ini.Hari Senin….ahhh begitu malas rasanya,untuk sekedar mengucapkannya saja
rasanya sudah ngilu,apalagi harus melaluinya,dari pagi sampai sore di sekolah.Ya,rasanya
seluruh hidupku hanya tercurahkan ke sekolah,hampir tidak ada waktu untuk ku
bermain,kalaupun ada paling cuma hari minggu ,itu juga terpotong dengan bles-les privat yang
aku ikuti.Maklum dari SD sampai Sekarang SMA aku selalu mengitu mengikuti les
privat atas perintah bokap,jadi secara gak kangsung masa mudaku terenggut oleh les-les
tersebut.Rasanya aku bosan dengan hidup yang seperti ini,aku ingin
bebas,seperti burung yang terbang bebas di angkasa,mengepakan sayap siap
menjelajah angkasa.Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarku,
Mama:”Ben…Beno,sudah
bangun to Nak?”
Beno:”Sudah Mah…..”
Mama:” Ya sudah
buruan gih,cepet mandi terus sarapan biar nggak telat”
Rasanya begitu
malas untuk menjawab kata-kata Mamaku.Ya memang sekolahku begitu ketat,pintu
gerbang ditutup jam 06.45,kalu telat ,ya tamatlah riwayatku..
Tapi yang buat
aneh ,peraturan itu cuma berlaku buat kita-kita,lha kalau yang telat guru atau
pegawai,dibiarin gitu aja,dengan enaknya masuk tanpa perasaan malu sedikitpun,gak
adil banget kan,lha yang buat mereka,mereka juga yang nglanggar.Alamak….!!,tanpa
kusadari jam sudah menunjukan pukul 05.30,buru –buru ke kamar mandi dan
langsung ku santap makanan di meja.Pukul 06.00,segera ku genjot sepeda Bmx
kesayanganku,ya walaupun dirumah ada mobil tapi aku lebih suka bersepeda karena
sehat,lha kakiku masih kuat kok haha..
Tiba-tiba dalam
perjalanan,aku melihat hal yang menarik perhatianku,segerombolan anak terlihat
berjalan beriringan sambil memunguti sampah yang ada disalah satu sudut jalan.Dari
gaya mereka ,sepertinya mereka bukan pemulung.Lalu untuk apa sampah-sampah
itu?timbul pertanyaan didalam benakku.Lalu aku berfikir untuk mengikuti
mereka,dan memang benar,mereka bukan pemulung,sampah-sampah itu mereka
kumpulkan lalu mereka memilih –milihnya.Aku semakin penasaran dengan yang kan
mereka lakukan dengan sampah sampah itu.Tiba-tiba dari belakang ada yang
menepuk punggungku
“Kakak,ada yang
bisa dibantu?”
“Eh..emm tidak
dek,adek siapa ya?”,tanyaku
“Oh namaku Jono
kak,kalau kakak sendiri?”
“Namaku Beno,aku
penasaran dengan mereka itu”.Sambil
tanganku menunjuk kea rah anak-anak tadi.
‘Oh mereeka tho
kak,ayo ikut aku”,jawab Jono.Akupun segera mengikutinya,lalu aku jadi tahu
kalau sampah-sampah itu akan mereka daur ulang menjadi kerajinan yang dapat
dijual,ah aku yang sudah segedhe ini masih minta bokap,tapi mereka……..aku
begitu malu.
Jon:”Ini sekolah
kami kak,sekolahnya anak –anak jalanan,pasti beda banget denga sekolah kakak”,dengan
tampangnya yang polos tanpa dosa..hehe
Beno:”Sekolah?”
Jono:”Iya
sekolah,disini kami diajar banyak hal dari menulis,berhitung,daur ulang seperti
ini,lalu ikut membantu masyarakat lain ,banyak pokoknya kak.Ya……(tiba-tiba raut
mukanya berubah menjadi murung),,,walaupun tidak ada gedung,tidak ada meja
atupun kursi,hanya seperti ini”
Beno:Emmm…(aku
tidak bisa berkat-kata dadaku penuh sesak,aku membayankan bagaimana jika hal
itu menimpaku)..ya yang sabar ya dek,kenapa gak minta bantuan sama pemerintah
dek?atau wrga sekitar”
Jono:ya..”Siapa
yang mau dengar kami kak,orang mereka pada sibuk mengenyangkan perut sendiri.Lha
mau minta warga,orang mereka juga kesusahan cari makan kok kak”
Aku hanya bisa
termenung,memang benar para wakil rakyat sekarang banyak yang tida peduli
dengan nasib rakyat,jika minta bantuan warga sekitar itu malah lebih konyol
lagi.Lalu aku berfikir,bagaimana seandainya aku belajar disini.Tak ada gedung
,bahkan kursi atau meja sekalipun juga tak ada,hanya beralaskan seadanya.
Jono:”Oh ya
kak,kakak sekolah dimana?mbolos ya..hehe”
Alamak…jebbbret!!!bagai
disambar petir,aku baru sadar,kaalu aku harus sekolah,dan oh my God,jam
tanganku sudah menunjukkan pukul 07.00 lebih,kepalang tanggung akhirnya ku
putuskan untuk bolos hari ini,percuma juga kesana,gak bakalan dibukain
gerbangnya,tak peduli alasan apapun!!
Beno: “Oh...hhe,iya
dek,sudah telat kok,di SMA Taruna Jaya dek”.
Jono:”Wah keren
banget,hebat itu kak,itu sekoalah elite ,tempat sekolahnya orang-orang beruang
setahuku”.
Beno:”Ah biasa
aja dek hehe…,gak ada istimewa-istimewanya,malah kayaknya sekolahmu lebih
asyik..haha”
Aku melihat
mereka belajar dengan wajah yang begitu gembira,tak ada raut muka mereka yang cemberut
ataupun lesu dalam mengikut pembelajaran,mereka sangat antusias,seakan dengan
belajar mereka terlepas dari beban hidup mereka.Beda sekali dengan yang ada
dikelasku,kalau guru sedang mengajar,banyak banget yang gak peduli,ada yang
smsan,ngobrol sendiri,facebookan,macem-macem dech,mungkin yang ada dipikiran
mereka yang penting mereka bayar.Beda anget dengan yang aku lihat sekarang ini.
Jono:”Ini lho
kak,aku kenalkan dengan guru kami,namaya Ibu Ema,dari luar negeri lho..hee”.
Beno:”Pagi
Bu,perkenalkan namaku Beno..(bar kusadari kalau ibu ini dari luar negeri,dari
warna kulit ,rambut dan bola matanya)”.
Ibu
Ema:”Pagi,namaku Ibu Ema”.
Beno:”Ibu dari
luar negeri ya?”.
Ibu Ema:”Iya,im
from Berlin,tapi saya suka disini,anak-anaknya sangat giat belajarnya”.
Ya dari info
yang dijelaskan oleh Jono,aku bisa tahu kalau Ibu Ema sudah mengajar sekitar 1
tahun lebih,karena itu kosa katanya masih terbatas.Baru beberapa detik saja
rasanya aku sudah begitu akrab dengan mereka.
Hampir seharian
aku menikmati waktuku disini,merefresh fikiran yang penuh dengan rumus dan
teori.Hari ternyata sudah menunjukan pukul 16.00 sore,waktunya aku harus pulang
kerumah.Ya walaupun aku tidak masuk,tapi aku masih beuntung mendapatkan sesuatu
yang tidak dapat kudapatkan disekolahku,sekolah yang tak hanya mengharuskan
muridnya mengerjakan soal,pulang-pulang bawa tugas,tapi disini berbeda
sekali,menyenangkan pokoknya,,tidak akan kulupakn kejadian hari ini.
Keesokan
harinya,seperti biasa kususuri jalanan yang padat merayap untuk sampai ke sekolah,beruntung
karena aku memakai sepeda,jadi bisa gesit..hehe.Sering aku berfikir kenapa
sekolahku makin lama pagarnya makin tinggi,gedungnya pun tak mau kalah,tapi hal
itu tak membuat ku nyaman ,seperti orang dipenjara,kalau sudah masuk gak bisa
keluar,hampir mirip dengan lapas-lapas yang ada di tv.Padahal sekolah anak
jalanan yang ku temui kemarin ,gedung saja tidak punya,tapi mereka bisa belajar
dengan penuh antusias dan sangat gembira,dan dapat melakukan hal-hal yang
bermanfaat.
Hari ini adalah
pelajaran fisika,seperti biasa hanya soal-soal yang ada dihadapanku.Lalu aku
bertanya,
“Bu, kenapa kita
tidak langsung aja ke penerapan,kenapa harus soal-soal terus ,dari SD sampai
sekarnag hanya soal yang ada”.
“Ya karena
seperti itu torinya,mau diapakan lagi”,jawab Guru.
“Kenapa kita
tidak seperti sekolah anakjalanan yang bisa bebas berekspresi,bisa bercengkrama
dengan massyarakat langsung?”,tambahku.
“Haha..anak jalanan,sekolah
macam apa itu”..hampir semua temanku
menertawaiku.
Ah..tidak ada
yang peduli ternyata.Dalam benakku aku berfikir,sebenarnya pendidikan ini untuk
apa?apa cukup dengan bisa menjawab semua soal yang ada,apa tidak ada tujuan
yang lain yang ingin diwujudkan?.
Rasanya aku
ingin menjerit,berteriak sekeras-kerasnya.Meluapkan amarahku pada mereka,pengen
kuhajar muka mereka.
Akhirnya sekolah
hari ini telah usai,rasanya senang sekali bisa keluar dari sekolah ini,seperti
terlepas dari jeruji besi yang mengkurungku selama ini.Tiba –tiba dari belakang
ada yang memanggil namaku,
“Ben..Beno”,suara
yang tak asing bagiku.
Aku kemudian
menoleh ,ternyata Enggar,cewek cantik di kelasku..hehe
“Iya Nggar,ada apa?”,tanyaku.
“Emm gini,,aku
penassaran dengan penjelasanmu tadi mengenai sekolah anak jalanan.Memang mereka
sekolah ya?”,tampak Enggar begitu penasaran.
“Ya sekolah to Enggar,bukankah
pendidikan untuk semua orang?”,jawabku.
“Iya,kupikir
mereka anak yang brutal..dan,,,emm macem-macem lah..hehe”,tambah Enggar.
“Enggak kok Nggar,mereka
baik-baik,dan pintar”,jawabku.
“Eh Ben,kamu mau
nggak nganterin aku kesana?ke sekolah anak jalanan”,bujuk Enggar.
“Emm boleh,ayo
ku antar”.
Sekitar 30 menit
kami sampai disekolah anak jalanan.”Jadi ini Ben,sekolah anak jalanan yang kamu
maksud?kok gak ada gedungnya Ben?”,Tanya Enggar.
“Iya Nggar,mereka
tidak punya gedung untuk belajar,tapi coba kamu liat bagaimana mereka begitu
bersemangat dalam belajar”,tambahku.
“Iya Ben,beda
banget dengan kita ya,kita punya fasilitas lengkap,tapi ogah-ogahan ,tapi
mereka?”,tampak raut muka redup dari wajah Enggar.
“Iya nggar,kita
harus bisa mencontoh mereka,kita gak boleh kalah semngat dengan mereka Nggar”,celotehku.
“Eh ben,itu ada
orang bule ya?”,tanya Enggar.
“Oh itu,itu guru
mereka”,jawabku.
“Apa?orang
bule?gila ya,kita punya penduduk yang begitu bnyak 250 juta jiwa ,tapi yang
peduli dengan nasib mreka malah orang luar negeri?”,raut muka Enggar begitu
kaget.
Beruntung
Nggar,kita masih dibukakan mata untuk melihat realitas yang sebenarnya,apa yang
terjadi dan dialami oleh masyarakat”,celotehku.
“Ciyee..omongannya
kayak bapak menteri..haha”,celoteh Enggar .
Dalam hatiku aku
terbesit dengan kata-kata yang Enggar
katakan,dimana orang Indonesia saat ini,kenapa tidak ada satupun yang
tergugah untuk peduli terhadap mereka.Malah mereka yang bukan orang Indonesia
begitu peduli terhadap nasib anak-anak jalanan.
“Kak Beno”,kata
itu menyadarkan lamunanku.
“Eh Jono,iya ada
apa Jon?”,tanyaku.
“Sifa ulang
tahun kak,kesana yuk”,ajak Jono.
“Ada yang ulang
tahun to,ayo kesana”,jawab enggar.Nampaknya Enggar sudah dapat beradaptasi
dengan situasi baru ini.Maklum lah Enggar anaknya pejabat,jarang bahkan mungkin
tidak pernah menginjakan kaki di tempat kumuh seperti ini.
Ternyata ibu Ema
membawakan jajan yang dapat dibagi untuk
semua anak,begitu nampak suasana kekeluargaan disini,ibarat donat sepotong
dibagi 10 orang tak masalah bagi mereka.
”Coba kalau aku
tahu ,pasti ku bawaan kue ulang tahun”,celetuk Enggar.
“Nggak perlu kok
kak,begini saja sudah sangat istemewa untukku”,jawab Sifa.
“Oh..hehe
“,Enggar hanya tersenyum kecil.Wajah Enggar tiba-tiba memerah,mungkin malu,bisa
dibayangkan kehidupan Enggar dengan anak jalanan yang berbeda 360 derajat.
Tiba-tiba Enggar
bertanya pada Sifa,”Sifa harapannya apa nih?”.
“Sifa pengennya
Cuma biar kita bisa punya gedung untuk belajar,jadi gak kepanasan atau kena
angin”,jawaban polos dari anak berusia 8 tahun itu membuat semuanya menjadi
hening seketika.
Termasuk
aku,dadakuseperti penuh sesak,Enggar hanya bisa meneteskan air
matanya.Kata-kata mungil itu menyadarkanku,ternyata walaupun mereka tampak
bahagia,namun mereka masih memiliki keinginan dibalik keceriaan yang mereka
tunjukan.
Saat perjalanan
pulang…….
“Ben,aku kasihan
dengan mereka,nggak punya gedung untuk belajar”,
“Iya Nggar,aku
begitu malu,hampir tiap tahun selalu membangun gedung baru sampai tanah sudah
tak terlihat lagi”,jawabku.
“Sama Ben,kita
yang punya fasilitas lengkap,tak pernah segembira itu dalam belajar,apalagi
untuk bersyukur”,tambah Enggar.Lalu setetes air mata kembali turun dari kedua
bola mata Enggar.Rasanya hatiku seperti dicabik-cabik dengan sebilah
pisau.Tiba-tiba timbul ide dibenakku,
“Nggar,bagaimana
kalau tiba mewujudkan keinginan Sifa?”,tanyaku.
“Bangun gedung
gitu?”,jawab Enggar.
“Iya Nggar”,aku
hanya tersenyum kecil.
“Dengan apa
Ben?uang saku kita gak mungkin cukup,mau minta bokap nggak bakalan dikasih
kalau urusannya kayak gini”,jawab Enggar.
Aku
tersadar,kalau orang tua kita jarang sekali ikut acara amal,kata-kata Enggar
hampir membuatku patah semangat,namun timbul ide lain dibenakku,
“Kita usaha
sendiri saja Nggar”,dengan wajah yang penuh optimis aku mengeluarkan statement
tersebut.
“Usaha apa
Ben?”,Tanya Enggar.
“Kita bisa buat
acara amal untuk mereka,kita juga akan ajak mereka dalam acara amal
tersebut,sehingga para donator bisa percaya”,jawabku.
“Kamu
yakin?”,serang Enggar.
“Yakin seribu
persen Nggar,aku nggak bisa tinggal diam ,bukankah kita yang mampu harus
menolong mereka yang tidak mampu?”,jawabku. Kata-kata itu hampir mirip dengan
yang ada dibuku Agamaku.Dan ternyata kata-kataku itu mampu membangkitkan
semangat dan kepercayaan Enggar.
“Tapi Ben,kita
belum pernah lho ikut dalam kepanitian ,apa kita bisa buat acaranya? aku
tahunya cuma teori yang ada dibuku,”,tambah Enggar.
“Tenang Nggar
kita bisa belajar dari osis kita,kalau mungkin kita bisa ajak mereka sekalian
dalam kegiatan ini”,tambahku.
“Emmm…ya mudah
mudahan ya Ben,ayo kita wujudkan keinginan Sifa”,ajak Enggar yang mulai
bersemangat.
Dan untuk
pertama kalinya kami memikirkan nasib orang,kami yang dari kecil biasa dengan
keadaan nyaman tanpa kurang suatu apapun.Apa-apa yang kami inginkan langsung
bisa terpenuhi,tanpa harus bersusah payah seperti ini.Namun tekatku sudah
bulat,bahwa aku harus bisa membantu setidaknya meringankan beban mereka.
Ternyata apa
yang diajarkan dibuku akan jauh berbeda jika kita lakukan sendiri.Begitu banyaknya
hal yang harus dilalui tak semudah mengungkapkannya dalam sebuah kata-kata menjadi
toeri didalam buku.Banyak hambatan dan halangan yang harus kami lalui,mulai
dari pihak sekolah yang tak mengijinkan dan dana yang tak kunjung turun untuk
acara ini.Beruntung karena osis kami memiliki semangat yang tak pantang
menyerah ,mereka tak henti-hentinya berjuang ,mereka juga merasa iba dengan
nasib anak-anak jalanan,aku bersyukur bisa dibantu oleh mereka.
Ejekan dan
celaan tak henti-hentinya aku dapatkan dari teman-temanku sendiri.Mereka
menganggap kegiatan ini hanya buang-buang waktu,mereka juga berangapan bahwa
anak jalanan tak layak untuk diperjuangkan.
“Hai Ben…gue
denger lho mau bikin acara amal sama anak jalanan ya?hahah…”,ejek seorang
temenku.
“Iya,kenapa
memang?”,jawabku.
“Haha..lho mau
bikin acara amal atau santunan anak yatim?haahaa..”,ejeknya lagi.
“Kurang ajar lho
ya,lho piker lho lebih baik dari mereka gitu ,hah?”,tantangku.
“Ya jelas,gue
punya segalanya,terus mereka bisa apa?paling cuma minta-minta,kalau nggak ya
nyopet..haha”,tambahnya.
Hampir saja
kutonjok mukanya,tapi tiba-tiba Enggar datang mencegahku.
“Sabar Ben,gak
usah ditanggepin,biar nanti kita tunjukan,bisa apa kita dengan mereka”,Enggar
membelaku.
“Hah,,ya
silahkan,gue tunggu!!”,tantangnya.
Apa memang
benar,apa yang ku lakukan ini hanya sia-sia?apa harapanku tidak akan
terwujud?tiba-tiba aku teringat perkataan guru BK ku,”Jadilah matahari yang
mampu menghangatkan semua orang,dan buatlah harapan setinggi matahari,karena
dengan harapan itulah yang akan merubah dunia ini”.Ya..benar,kata-kata itu
membangkitkan semangatku kembali yang hampir luntur karena banyaknya ejekan dan
cemoohan yang ku terima.
Hampir setiap
hari aku,Enggar berlatih dengan anak-anak jalanan,agar penampilan kami tidak mengecewakan
nantinya.Anak-anak jalanan ini ternyata memiliki bakat yang begitu
besarnya,mereka bisa bernyanyi tak kalah dengan kontes menyanyi di Tv,mereka
juga bisa bermain drama,terlebih drama ini mengangkat kehidupan pribadi
mereka,menari,baca puisi,banyak lah yang bisa mereka lakukan.Namun hal yang tak
kuduga,mamaku sampai memarahiku karena hal ini,
Mama:
“Beno!!,kamu itu tahu nggak,apa yang kamu yang lakukan akan merusak masa
depanmu!!.
Beno:”Merusak
bagaimana Ma?aku hanya ingin menolong mereka”.
Mama:”Tapi tidak
usah sampai seperti itu,kamu cukup belajar,dengan itu kamu akan jadi anak yang
cerdas,menang lomba mengangkat trofi,nantinya kamu bisa buat bangga
sekolahmu,mama dan papa,tidak usah dengan hal-hal seperti itu!!”.
Beno:”Ma..buat
apa piala,piala nggak akan bisa merubah nasib anak-anak jalanan itu,nilai jiga
tidak akan mampu mengangkat mereka dari kesengsaraan.ma..tolong,dukung aku,aku
butuh dukungan Mama”.Tubuhku begitu gemetar,dadaku penuh sesak,baru kali ini
aku berani membantah Mamaku.Tak kusangka,kedua bola mata itu meneteskan air
mata,Mamaku memelukku,sebuah pelukan kasih saying yang begitu nyaman.
“Maafin aku
Ma,aku nggak bermaksud menyakiti hati Mama”,
“Nggak Ben…,Mama
yang salah,sudah seharusnya Mama percaya terhadap apa yang kamu lakukan”.
“Beneran
Ma?”,tanyaku.
“Iya Nak,lalu
kapan acaramu akan dimulai?”,Tanya Mamaku.
“Besok Ma,malam
minggu”,jawabku.
“Baik lah,Mama
dan Papa akan datang,dan Mama juga akan menghubungi teman-teman bisnis mama
agar mereka juga mau ikut datang”.
“Ha?Mama serius?”,aku
sepeti tidak percaya terhadap apa yang barusan aku dengar.
“Iya
sayang,karena itu buat acaranya sebaik mungkin biar Mama dan temen-temen Mama
tidak kecewa”,sambil tangan mamaku memencet hidungku,hal yang sering kali mama
ku lakukan waktu aku massih kecil.
“Terima kasih
Ma,itu sangat berarti bagiku”,sungguh hal yang tak pernah kubayangkan
sebelumnya.Mamaku yang selalu sibuk dengan urusaan kantor mau menyempatkan diri
untuk melihat acaraku.
……………………………..
Hari itupun
tiba,meskipun mamaku memastikan diri untuk datang,tapi perasaan was-was dan
cemas masih menghantuiku.Bagaimana kalau yang datang sedikit?bagaimana kalau
acara ini akan gagal?aku begitu ketakutan.Tiba-tiba Enggar mendatangiku,”Tenang
lah Ben,aku juga merasakan apa yang kau rasakan,kita berdoa saja mudah-mudahan
banyak yang datang.
Dan tepat pukul
19.00 waktu,belum satu orang penontonpun yang datang,aku semakin
cemas,harapanku hampir berakhir.Tiba-tiba sebuah keajaiban datang,suara
marching band datang dengan diiringi kerumunan massa yang begitu
banyaknya.Mataku hampir tak berkedip melihat hal itu,ternyata marching band itu
berasal dari sekolahku.Bukan hanya marching band yang
datang,tetapi…guru-guruku,teman-temanku juga ikut datang.Mama dan papaku juga
beserta karyawan dan teman-temannya juga ikut datang.Aku hampir tak percaya
dengan yang aku lihat sekarang.Semua panitia menunjukan raut wajah yang begitu
gembira dan bersemangat,yang tadinya menunjuan raut muka yang pesimis dan cema.
“Bener kan
Ben,acara kita pasti sukses’,sebuah
senyum kecil mengembang dari bibir Enggar.
Aku juga hanya
bisa tersenyum,karena aku hampir tak bisa berkata-kata lagi.Segera acara
dimulai,dari penampilan solo menyanyi,baca puisi sampai ditutup dengan
drama.Penampilan yang menurutku begitu sempurna.Mereka tampil dengan sebaik
yang bisa mereka lakukan.Aku begitu terharu dengan semua ini.
Sebuah tepuk
tangan yang begitu meriah dari penonton meutup pertunjukan malam ini,raut wajah
gembira dan puas terpancar dari wjah penonton,termassuk Mamaku.
“Ben..acaramu
bagus,nggak salah kalau Mama datang”.
“Hee..terima
kasih Ma,ini juga berkat dukungan Mama”,tambahku.
Begitu acara
selesai,di umumkan dana yang berhasil dikumpulkan selama acara oleh Mc.
“Dana yang
berhasil terkumpul untuk acara amal pada malam hari ini,sebesar 355.000.000
juta rupiah”. Aku seperti mimpi mendengar jumlah tersebut.Jumlah itu lebih dari
yang aku bayangkan sebelumnya.Tak hanya aku,semua yang terlibat begitu bahagia
,mereka bersorak penuh gembira.Aku sangat bersyukur kepada Tuhan,tak sia-sia
perjuanganku selama ini,rasa lelah yang melanda segera sirna dengan kegembiraan
ini.“Kak Beno,terima kasih ya”,ucap Jono.
“Sama-sama Jono,kita
akan segera bangun gedung untuk belajar kalian”,jawabku.
“Kak
beno……..”,tiba-tiba tubuh Sifa yang kecil memeluk tubuhku,”Terima kasih ya”.
Semua melebur
dalam kegembiraan.Hal yang tak akan aku lupakan.Bisa membantu mereka,bagiku
inilah belajar yang sesungguhnya.Belajar yang mampu meringankan beban mereka
dan mampu membantu mereka.
Sekian.