Rabu, 13 November 2013


                                                Harapan Setinggi Matahari
Deru suara kendaraan membuatku terbangun dari tidurku,jam baru menunjukan pukul 05.00 pagi,tapi bisa dibayangkan bagaimana bisingnya tinggal di kota metropolitan ini.Hari Senin….ahhh begitu malas rasanya,untuk sekedar mengucapkannya saja rasanya sudah ngilu,apalagi harus melaluinya,dari pagi sampai sore di sekolah.Ya,rasanya seluruh hidupku hanya tercurahkan ke sekolah,hampir tidak ada waktu untuk ku bermain,kalaupun ada paling cuma hari minggu ,itu  juga terpotong dengan bles-les privat yang aku ikuti.Maklum dari SD sampai Sekarang SMA aku selalu mengitu mengikuti les privat atas perintah bokap,jadi secara gak kangsung masa mudaku terenggut oleh les-les tersebut.Rasanya aku bosan dengan hidup yang seperti ini,aku ingin bebas,seperti burung yang terbang bebas di angkasa,mengepakan sayap siap menjelajah angkasa.Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu kamarku,
Mama:”Ben…Beno,sudah bangun to Nak?”
Beno:”Sudah Mah…..”
Mama:” Ya sudah buruan gih,cepet mandi terus sarapan biar nggak telat”
Rasanya begitu malas untuk menjawab kata-kata Mamaku.Ya memang sekolahku begitu ketat,pintu gerbang ditutup jam 06.45,kalu telat ,ya tamatlah riwayatku..
Tapi yang buat aneh ,peraturan itu cuma berlaku buat kita-kita,lha kalau yang telat guru atau pegawai,dibiarin gitu aja,dengan enaknya masuk tanpa perasaan malu sedikitpun,gak adil banget kan,lha yang buat mereka,mereka juga yang nglanggar.Alamak….!!,tanpa kusadari jam sudah menunjukan pukul 05.30,buru –buru ke kamar mandi dan langsung ku santap makanan di meja.Pukul 06.00,segera ku genjot sepeda Bmx kesayanganku,ya walaupun dirumah ada mobil tapi aku lebih suka bersepeda karena sehat,lha kakiku masih kuat kok haha..
Tiba-tiba dalam perjalanan,aku melihat hal yang menarik perhatianku,segerombolan anak terlihat berjalan beriringan sambil memunguti sampah yang ada disalah satu sudut jalan.Dari gaya mereka ,sepertinya mereka bukan pemulung.Lalu untuk apa sampah-sampah itu?timbul pertanyaan didalam benakku.Lalu aku berfikir untuk mengikuti mereka,dan memang benar,mereka bukan pemulung,sampah-sampah itu mereka kumpulkan lalu mereka memilih –milihnya.Aku semakin penasaran dengan yang kan mereka lakukan dengan sampah sampah itu.Tiba-tiba dari belakang ada yang menepuk punggungku
“Kakak,ada yang bisa dibantu?”
“Eh..emm tidak dek,adek siapa ya?”,tanyaku
“Oh namaku Jono kak,kalau kakak sendiri?”
“Namaku Beno,aku penasaran dengan mereka  itu”.Sambil tanganku menunjuk kea rah anak-anak tadi.
‘Oh mereeka tho kak,ayo ikut aku”,jawab Jono.Akupun segera mengikutinya,lalu aku jadi tahu kalau sampah-sampah itu akan mereka daur ulang menjadi kerajinan yang dapat dijual,ah aku yang sudah segedhe ini masih minta bokap,tapi mereka……..aku begitu malu.
Jon:”Ini sekolah kami kak,sekolahnya anak –anak jalanan,pasti beda banget denga sekolah kakak”,dengan tampangnya yang polos tanpa dosa..hehe
Beno:”Sekolah?”
Jono:”Iya sekolah,disini kami diajar banyak hal dari menulis,berhitung,daur ulang seperti ini,lalu ikut membantu masyarakat lain ,banyak pokoknya kak.Ya……(tiba-tiba raut mukanya berubah menjadi murung),,,walaupun tidak ada gedung,tidak ada meja atupun kursi,hanya seperti ini”
Beno:Emmm…(aku tidak bisa berkat-kata dadaku penuh sesak,aku membayankan bagaimana jika hal itu menimpaku)..ya yang sabar ya dek,kenapa gak minta bantuan sama pemerintah dek?atau wrga sekitar”
Jono:ya..”Siapa yang mau dengar kami kak,orang mereka pada sibuk mengenyangkan perut sendiri.Lha mau minta warga,orang mereka juga kesusahan cari makan kok kak”
Aku hanya bisa termenung,memang benar para wakil rakyat sekarang banyak yang tida peduli dengan nasib rakyat,jika minta bantuan warga sekitar itu malah lebih konyol lagi.Lalu aku berfikir,bagaimana seandainya aku belajar disini.Tak ada gedung ,bahkan kursi atau meja sekalipun juga tak ada,hanya beralaskan seadanya.
Jono:”Oh ya kak,kakak sekolah dimana?mbolos ya..hehe”
Alamak…jebbbret!!!bagai disambar petir,aku baru sadar,kaalu aku harus sekolah,dan oh my God,jam tanganku sudah menunjukkan pukul 07.00 lebih,kepalang tanggung akhirnya ku putuskan untuk bolos hari ini,percuma juga kesana,gak bakalan dibukain gerbangnya,tak peduli alasan apapun!!
Beno: “Oh...hhe,iya dek,sudah telat kok,di SMA Taruna Jaya dek”.
Jono:”Wah keren banget,hebat itu kak,itu sekoalah elite ,tempat sekolahnya orang-orang beruang setahuku”.
Beno:”Ah biasa aja dek hehe…,gak ada istimewa-istimewanya,malah kayaknya sekolahmu lebih asyik..haha”
Aku melihat mereka belajar dengan wajah yang begitu gembira,tak ada raut muka mereka yang cemberut ataupun lesu dalam mengikut pembelajaran,mereka sangat antusias,seakan dengan belajar mereka terlepas dari beban hidup mereka.Beda sekali dengan yang ada dikelasku,kalau guru sedang mengajar,banyak banget yang gak peduli,ada yang smsan,ngobrol sendiri,facebookan,macem-macem dech,mungkin yang ada dipikiran mereka yang penting mereka bayar.Beda anget dengan yang aku lihat sekarang ini.
Jono:”Ini lho kak,aku kenalkan dengan guru kami,namaya Ibu Ema,dari luar negeri lho..hee”.
Beno:”Pagi Bu,perkenalkan namaku Beno..(bar kusadari kalau ibu ini dari luar negeri,dari warna kulit ,rambut dan bola matanya)”.
Ibu Ema:”Pagi,namaku Ibu Ema”.
Beno:”Ibu dari luar negeri ya?”.
Ibu Ema:”Iya,im from Berlin,tapi saya suka disini,anak-anaknya sangat giat belajarnya”.
Ya dari info yang dijelaskan oleh Jono,aku bisa tahu kalau Ibu Ema sudah mengajar sekitar 1 tahun lebih,karena itu kosa katanya masih terbatas.Baru beberapa detik saja rasanya aku sudah begitu akrab dengan mereka.
Hampir seharian aku menikmati waktuku disini,merefresh fikiran yang penuh dengan rumus dan teori.Hari ternyata sudah menunjukan pukul 16.00 sore,waktunya aku harus pulang kerumah.Ya walaupun aku tidak masuk,tapi aku masih beuntung mendapatkan sesuatu yang tidak dapat kudapatkan disekolahku,sekolah yang tak hanya mengharuskan muridnya mengerjakan soal,pulang-pulang bawa tugas,tapi disini berbeda sekali,menyenangkan pokoknya,,tidak akan kulupakn kejadian hari ini.
Keesokan harinya,seperti biasa kususuri jalanan yang padat merayap untuk sampai ke sekolah,beruntung karena aku memakai sepeda,jadi bisa gesit..hehe.Sering aku berfikir kenapa sekolahku makin lama pagarnya makin tinggi,gedungnya pun tak mau kalah,tapi hal itu tak membuat ku nyaman ,seperti orang dipenjara,kalau sudah masuk gak bisa keluar,hampir mirip dengan lapas-lapas yang ada di tv.Padahal sekolah anak jalanan yang ku temui kemarin ,gedung saja tidak punya,tapi mereka bisa belajar dengan penuh antusias dan sangat gembira,dan dapat melakukan hal-hal yang bermanfaat.
Hari ini adalah pelajaran fisika,seperti biasa hanya soal-soal yang ada dihadapanku.Lalu aku bertanya,
“Bu, kenapa kita tidak langsung aja ke penerapan,kenapa harus soal-soal terus ,dari SD sampai sekarnag hanya soal yang ada”.
“Ya karena seperti itu torinya,mau diapakan lagi”,jawab Guru.
“Kenapa kita tidak seperti sekolah anakjalanan yang bisa bebas berekspresi,bisa bercengkrama dengan massyarakat langsung?”,tambahku.
“Haha..anak jalanan,sekolah macam apa itu”..hampir semua  temanku menertawaiku.
Ah..tidak ada yang peduli ternyata.Dalam benakku aku berfikir,sebenarnya pendidikan ini untuk apa?apa cukup dengan bisa menjawab semua soal yang ada,apa tidak ada tujuan yang lain yang ingin diwujudkan?.
Rasanya aku ingin menjerit,berteriak sekeras-kerasnya.Meluapkan amarahku pada mereka,pengen kuhajar muka mereka.
Akhirnya sekolah hari ini telah usai,rasanya senang sekali bisa keluar dari sekolah ini,seperti terlepas dari jeruji besi yang mengkurungku selama ini.Tiba –tiba dari belakang ada yang memanggil namaku,
“Ben..Beno”,suara yang tak asing bagiku.
Aku kemudian menoleh ,ternyata Enggar,cewek cantik di kelasku..hehe
“Iya Nggar,ada apa?”,tanyaku.
“Emm gini,,aku penassaran dengan penjelasanmu tadi mengenai sekolah anak jalanan.Memang mereka sekolah ya?”,tampak Enggar begitu penasaran.
“Ya sekolah to Enggar,bukankah pendidikan untuk semua orang?”,jawabku.
“Iya,kupikir mereka anak yang brutal..dan,,,emm macem-macem lah..hehe”,tambah Enggar.
“Enggak kok Nggar,mereka baik-baik,dan pintar”,jawabku.
“Eh Ben,kamu mau nggak nganterin aku kesana?ke sekolah anak jalanan”,bujuk Enggar.
“Emm boleh,ayo ku antar”.
Sekitar 30 menit kami sampai disekolah anak jalanan.”Jadi ini Ben,sekolah anak jalanan yang kamu maksud?kok gak ada gedungnya Ben?”,Tanya Enggar.
“Iya Nggar,mereka tidak punya gedung untuk belajar,tapi coba kamu liat bagaimana mereka begitu bersemangat dalam belajar”,tambahku.
“Iya Ben,beda banget dengan kita ya,kita punya fasilitas lengkap,tapi ogah-ogahan ,tapi mereka?”,tampak raut muka redup dari wajah Enggar.
“Iya nggar,kita harus bisa mencontoh mereka,kita gak boleh kalah semngat dengan mereka Nggar”,celotehku.
“Eh ben,itu ada orang bule ya?”,tanya Enggar.
“Oh itu,itu guru mereka”,jawabku.
“Apa?orang bule?gila ya,kita punya penduduk yang begitu bnyak 250 juta jiwa ,tapi yang peduli dengan nasib mreka malah orang luar negeri?”,raut muka Enggar begitu kaget.
Beruntung Nggar,kita masih dibukakan mata untuk melihat realitas yang sebenarnya,apa yang terjadi dan dialami oleh masyarakat”,celotehku.
“Ciyee..omongannya kayak bapak menteri..haha”,celoteh Enggar .
Dalam hatiku aku terbesit dengan kata-kata yang Enggar  katakan,dimana orang Indonesia saat ini,kenapa tidak ada satupun yang tergugah untuk peduli terhadap mereka.Malah mereka yang bukan orang Indonesia begitu peduli terhadap nasib anak-anak jalanan.
“Kak Beno”,kata itu menyadarkan lamunanku.
“Eh Jono,iya ada apa Jon?”,tanyaku.
“Sifa ulang tahun kak,kesana yuk”,ajak Jono.
“Ada yang ulang tahun to,ayo kesana”,jawab enggar.Nampaknya Enggar sudah dapat beradaptasi dengan situasi baru ini.Maklum lah Enggar anaknya pejabat,jarang bahkan mungkin tidak pernah menginjakan kaki di tempat kumuh seperti ini.
Ternyata ibu Ema membawakan  jajan yang dapat dibagi untuk semua anak,begitu nampak suasana kekeluargaan disini,ibarat donat sepotong dibagi 10 orang tak masalah bagi mereka.
”Coba kalau aku tahu ,pasti ku bawaan kue ulang tahun”,celetuk Enggar.
“Nggak perlu kok kak,begini saja sudah sangat istemewa untukku”,jawab Sifa.
“Oh..hehe “,Enggar hanya tersenyum kecil.Wajah Enggar tiba-tiba memerah,mungkin malu,bisa dibayangkan kehidupan Enggar dengan anak jalanan yang berbeda 360 derajat.
Tiba-tiba Enggar bertanya pada Sifa,”Sifa harapannya apa nih?”.
“Sifa pengennya Cuma biar kita bisa punya gedung untuk belajar,jadi gak kepanasan atau kena angin”,jawaban polos dari anak berusia 8 tahun itu membuat semuanya menjadi hening seketika.
Termasuk aku,dadakuseperti penuh sesak,Enggar hanya bisa meneteskan air matanya.Kata-kata mungil itu menyadarkanku,ternyata walaupun mereka tampak bahagia,namun mereka masih memiliki keinginan dibalik keceriaan yang mereka tunjukan.
Saat perjalanan pulang…….
“Ben,aku kasihan dengan mereka,nggak punya gedung untuk belajar”,
“Iya Nggar,aku begitu malu,hampir tiap tahun selalu membangun gedung baru sampai tanah sudah tak terlihat lagi”,jawabku.
“Sama Ben,kita yang punya fasilitas lengkap,tak pernah segembira itu dalam belajar,apalagi untuk bersyukur”,tambah Enggar.Lalu setetes air mata kembali turun dari kedua bola mata Enggar.Rasanya hatiku seperti dicabik-cabik dengan sebilah pisau.Tiba-tiba timbul ide dibenakku,
“Nggar,bagaimana kalau tiba mewujudkan keinginan Sifa?”,tanyaku.
“Bangun gedung gitu?”,jawab Enggar.
“Iya Nggar”,aku hanya tersenyum kecil.
“Dengan apa Ben?uang saku kita gak mungkin cukup,mau minta bokap nggak bakalan dikasih kalau urusannya kayak gini”,jawab Enggar.
Aku tersadar,kalau orang tua kita jarang sekali ikut acara amal,kata-kata Enggar hampir membuatku patah semangat,namun timbul ide lain dibenakku,
“Kita usaha sendiri saja Nggar”,dengan wajah yang penuh optimis aku mengeluarkan statement tersebut.
“Usaha apa Ben?”,Tanya Enggar.
“Kita bisa buat acara amal untuk mereka,kita juga akan ajak mereka dalam acara amal tersebut,sehingga para donator bisa percaya”,jawabku.
“Kamu yakin?”,serang Enggar.
“Yakin seribu persen Nggar,aku nggak bisa tinggal diam ,bukankah kita yang mampu harus menolong mereka yang tidak mampu?”,jawabku. Kata-kata itu hampir mirip dengan yang ada dibuku Agamaku.Dan ternyata kata-kataku itu mampu membangkitkan semangat dan kepercayaan Enggar.
“Tapi Ben,kita belum pernah lho ikut dalam kepanitian ,apa kita bisa buat acaranya? aku tahunya cuma teori yang ada dibuku,”,tambah Enggar.
“Tenang Nggar kita bisa belajar dari osis kita,kalau mungkin kita bisa ajak mereka sekalian dalam kegiatan ini”,tambahku.
“Emmm…ya mudah mudahan ya Ben,ayo kita wujudkan keinginan Sifa”,ajak Enggar yang mulai bersemangat.
Dan untuk pertama kalinya kami memikirkan nasib orang,kami yang dari kecil biasa dengan keadaan nyaman tanpa kurang suatu apapun.Apa-apa yang kami inginkan langsung bisa terpenuhi,tanpa harus bersusah payah seperti ini.Namun tekatku sudah bulat,bahwa aku harus bisa membantu setidaknya meringankan beban mereka.
Ternyata apa yang diajarkan dibuku akan jauh berbeda jika kita lakukan sendiri.Begitu banyaknya hal yang harus dilalui tak semudah mengungkapkannya dalam sebuah kata-kata menjadi toeri didalam buku.Banyak hambatan dan halangan yang harus kami lalui,mulai dari pihak sekolah yang tak mengijinkan dan dana yang tak kunjung turun untuk acara ini.Beruntung karena osis kami memiliki semangat yang tak pantang menyerah ,mereka tak henti-hentinya berjuang ,mereka juga merasa iba dengan nasib anak-anak jalanan,aku bersyukur bisa dibantu oleh mereka.
Ejekan dan celaan tak henti-hentinya aku dapatkan dari teman-temanku sendiri.Mereka menganggap kegiatan ini hanya buang-buang waktu,mereka juga berangapan bahwa anak jalanan tak layak untuk diperjuangkan.
“Hai Ben…gue denger lho mau bikin acara amal sama anak jalanan ya?hahah…”,ejek seorang temenku.
“Iya,kenapa memang?”,jawabku.
“Haha..lho mau bikin acara amal atau santunan anak yatim?haahaa..”,ejeknya lagi.
“Kurang ajar lho ya,lho piker lho lebih baik dari mereka gitu ,hah?”,tantangku.
“Ya jelas,gue punya segalanya,terus mereka bisa apa?paling cuma minta-minta,kalau nggak ya nyopet..haha”,tambahnya.
Hampir saja kutonjok mukanya,tapi tiba-tiba Enggar datang mencegahku.
“Sabar Ben,gak usah ditanggepin,biar nanti kita tunjukan,bisa apa kita dengan mereka”,Enggar membelaku.
“Hah,,ya silahkan,gue tunggu!!”,tantangnya.
Apa memang benar,apa yang ku lakukan ini hanya sia-sia?apa harapanku tidak akan terwujud?tiba-tiba aku teringat perkataan guru BK ku,”Jadilah matahari yang mampu menghangatkan semua orang,dan buatlah harapan setinggi matahari,karena dengan harapan itulah yang akan merubah dunia ini”.Ya..benar,kata-kata itu membangkitkan semangatku kembali yang hampir luntur karena banyaknya ejekan dan cemoohan yang ku terima.
Hampir setiap hari aku,Enggar berlatih dengan anak-anak jalanan,agar penampilan kami tidak mengecewakan nantinya.Anak-anak jalanan ini ternyata memiliki bakat yang begitu besarnya,mereka bisa bernyanyi tak kalah dengan kontes menyanyi di Tv,mereka juga bisa bermain drama,terlebih drama ini mengangkat kehidupan pribadi mereka,menari,baca puisi,banyak lah yang bisa mereka lakukan.Namun hal yang tak kuduga,mamaku sampai memarahiku karena hal ini,
Mama: “Beno!!,kamu itu tahu nggak,apa yang kamu yang lakukan akan merusak masa depanmu!!.
Beno:”Merusak bagaimana Ma?aku hanya ingin menolong mereka”.
Mama:”Tapi tidak usah sampai seperti itu,kamu cukup belajar,dengan itu kamu akan jadi anak yang cerdas,menang lomba mengangkat trofi,nantinya kamu bisa buat bangga sekolahmu,mama dan papa,tidak usah dengan hal-hal seperti itu!!”.
Beno:”Ma..buat apa piala,piala nggak akan bisa merubah nasib anak-anak jalanan itu,nilai jiga tidak akan mampu mengangkat mereka dari kesengsaraan.ma..tolong,dukung aku,aku butuh dukungan Mama”.Tubuhku begitu gemetar,dadaku penuh sesak,baru kali ini aku berani membantah Mamaku.Tak kusangka,kedua bola mata itu meneteskan air mata,Mamaku memelukku,sebuah pelukan kasih saying yang begitu nyaman.
“Maafin aku Ma,aku nggak bermaksud menyakiti hati Mama”,
“Nggak Ben…,Mama yang salah,sudah seharusnya Mama percaya terhadap apa yang kamu lakukan”.
“Beneran Ma?”,tanyaku.
“Iya Nak,lalu kapan acaramu akan dimulai?”,Tanya Mamaku.
“Besok Ma,malam minggu”,jawabku.
“Baik lah,Mama dan Papa akan datang,dan Mama juga akan menghubungi teman-teman bisnis mama agar mereka juga mau ikut datang”.
“Ha?Mama serius?”,aku sepeti tidak percaya terhadap apa yang barusan aku dengar.
“Iya sayang,karena itu buat acaranya sebaik mungkin biar Mama dan temen-temen Mama tidak kecewa”,sambil tangan mamaku memencet hidungku,hal yang sering kali mama ku lakukan waktu aku massih kecil.
“Terima kasih Ma,itu sangat berarti bagiku”,sungguh hal yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.Mamaku yang selalu sibuk dengan urusaan kantor mau menyempatkan diri untuk melihat acaraku.
……………………………..
Hari itupun tiba,meskipun mamaku memastikan diri untuk datang,tapi perasaan was-was dan cemas masih menghantuiku.Bagaimana kalau yang datang sedikit?bagaimana kalau acara ini akan gagal?aku begitu ketakutan.Tiba-tiba Enggar mendatangiku,”Tenang lah Ben,aku juga merasakan apa yang kau rasakan,kita berdoa saja mudah-mudahan banyak yang datang.
Dan tepat pukul 19.00 waktu,belum satu orang penontonpun yang datang,aku semakin cemas,harapanku hampir berakhir.Tiba-tiba sebuah keajaiban datang,suara marching band datang dengan diiringi kerumunan massa yang begitu banyaknya.Mataku hampir tak berkedip melihat hal itu,ternyata marching band itu berasal dari sekolahku.Bukan hanya marching band yang datang,tetapi…guru-guruku,teman-temanku juga ikut datang.Mama dan papaku juga beserta karyawan dan teman-temannya juga ikut datang.Aku hampir tak percaya dengan yang aku lihat sekarang.Semua panitia menunjukan raut wajah yang begitu gembira dan bersemangat,yang tadinya menunjuan raut muka yang pesimis dan cema.
“Bener kan Ben,acara kita pasti  sukses’,sebuah senyum kecil mengembang dari bibir Enggar.
Aku juga hanya bisa tersenyum,karena aku hampir tak bisa berkata-kata lagi.Segera acara dimulai,dari penampilan solo menyanyi,baca puisi sampai ditutup dengan drama.Penampilan yang menurutku begitu sempurna.Mereka tampil dengan sebaik yang bisa mereka lakukan.Aku begitu terharu dengan semua ini.
Sebuah tepuk tangan yang begitu meriah dari penonton meutup pertunjukan malam ini,raut wajah gembira dan puas terpancar dari wjah penonton,termassuk Mamaku.
“Ben..acaramu bagus,nggak salah kalau Mama datang”.
“Hee..terima kasih Ma,ini juga berkat dukungan Mama”,tambahku.
Begitu acara selesai,di umumkan dana yang berhasil dikumpulkan selama acara oleh Mc.
“Dana yang berhasil terkumpul untuk acara amal pada malam hari ini,sebesar 355.000.000 juta rupiah”. Aku seperti mimpi mendengar jumlah tersebut.Jumlah itu lebih dari yang aku bayangkan sebelumnya.Tak hanya aku,semua yang terlibat begitu bahagia ,mereka bersorak penuh gembira.Aku sangat bersyukur kepada Tuhan,tak sia-sia perjuanganku selama ini,rasa lelah yang melanda segera sirna dengan kegembiraan ini.“Kak Beno,terima kasih ya”,ucap Jono.
“Sama-sama Jono,kita akan segera bangun gedung untuk belajar kalian”,jawabku.
“Kak beno……..”,tiba-tiba tubuh Sifa yang kecil memeluk tubuhku,”Terima kasih ya”.
Semua melebur dalam kegembiraan.Hal yang tak akan aku lupakan.Bisa membantu mereka,bagiku inilah belajar yang sesungguhnya.Belajar yang mampu meringankan beban mereka dan mampu membantu mereka.
Sekian.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar